20100809 18

Fenomena Desain Gratis

in , ,


Desain Gratis!? Ini mungkin bukanlah hal baru dalam industri desain grafis di Indonesia. Memberikan layanan desain gratis banyak dilakukan oleh orang-orang yang bisa menggunakan software grafis semacam photoshop dan Illustrator dan menamakan diri mereka desainer. Kontroversi seputar desain gratis ini pun kemudian merebak ke permukaan. Ada yang pro, ada pula yang kontra. Maka wajar, ketika ribuan sarjana DKV (Desain Komunikasi Visual) di Indonesia setiap tahunnya harus gigit jari ketika apresiasi terhadap desain dari masyarakat cukup rendah. Mau dikemanakan skill mereka itu nantinya?




Desain Gratis? Why!?

Desain atau merancang adalah sesuatu yang sulit, sangat rumit, dan butuh konsep dan kreativitas yang tinggi (setidaknya menurut saya). Lantas kenapa banyak orang dengan sukarela berani memberikan jasa layanan desain gratis? Bagaimana untungnya? Saya pribadi melihat ada beberapa faktor dimana seseorang bisa memberikan layanan desain secara gratis.

1—Prestise

Sebuah karya desain tentunya akan dihadapkan kepada publik dan dilihat oleh banyak orang. Ini akan menimbulkan rasa bangga (prestise) tersendiri bagi desainer yang membuatnya. Kondisi seperti ini biasa dirasakan desainer pemula yang baru belajar menggunakan software grafis, dan dapat order desain dari orang-orang terdekat (teman, tetangga, kerabat, dll) tanpa bayaran alias gratis.

2—Charge from Anything Else

Di beberapa daerah, desain grafis belum dianggap sebuah sebuah profesi secara utuh sehingga layak dihargai. Kondisi ini terlihat dari beberapa desainer yang bekerja secara freelance namun sepertinya tabu untuk meminta design fee. Akibatnya, desainer mengalihkan biaya desain ke dalam fee produksi/percetakan. Kondisi ini membuat klien berfikir bahwa desain itu gratis walaupun mereka tetap harus membayar untuk itu.

3—Menarik Pelanggan

Faktor terbesar yang paling mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap desain grafis adalah percetakan dan digital printing yang tersebar di penjuru Indonesia. Embel-embel seperti "desain gratis", "gratis desain", dll dibubuhkan oleh banyak percetakan untuk menarik banyak pelanggan. Sama seperti pada poin dua, percetakan-percetakan tersebut juga mengalihkan biaya tersebut dengan menaikkan biaya produksi. Hal-hal seperti ini semakin memperkuat pola berfikir masyarakat bahwasanya desain grafis memang hanya pekerjaan ecek-ecek dan bisa dilakukan sembarang orang.

Faktor-faktor diatas memang berpotensi kuat membangun persepsi masyarakat tentang desain grafis. Maka tidak heran ketika apresiasi masyarakat terhadap desain sangat rendah, mutu desain grafis itu sendiri akan turun dengan sendirinya. Tidak akan ada seorangpun yang mau melakukan research, brainstroming, berfikir hal-hal kreatif, berfikir konsep, dsb jika tidak dihargai sepeser pun alias gratis. Begitu juga halnya dengan desain gratis, desainer akan bekerja seadanya dan tanpa proses. Secara kasar bisa dikatakan, bahwa desainer cuma asal tempel gambar dan teks tanpa memikirkan bagaimana setiap elemen dalam desain dapat bekerja untuk membuat desain yang menghasilkan impact.

Fenomena Desain Gratis

img source


Untung—Rugi

Jika berbicara untung—rugi, mungkin akan kembali kepada masing-masing pihak. Untuk kondisi layanan desain gratis seperti ini, biasanya desainer dan klien keduanya merasa diuntungkan. Desainer diuntungkan oleh faktor-faktor yang telah disebutkan diatas seperti prestise, pelanggan, dsb. Klien pun diuntungkan karena tidak perlu mengeluarkan biaya untuk desain.

Namun jika dirunut lebih jauh, mungkin keduanya mengalami kerugian. Kenapa!? Desainer secara langsung akan menurunkan derajat profesionalitasnya sebagai desainer. Dia menciptakan standarisasi tersendiri kepada dirinya sebagai desainer gratisan. Secara umum, orang akan melihat sesuatu yang gratis sebagai low quality dan ini akan berimbas kepada karir desainer itu sendiri.

Lantas bagi klien, apa ruginya mendapat desain gratis? Jelas rugi, pepatah mengatakan : "Good Design is Good Business". Memang desain bukanlah satu-satunya faktor dalam memajukan sebuah usaha. Namun beberapa perusahaan yang beranjak besar membuktikan akan susah bersaing ketika mereka tidak mempunyai desain dan brand yang bagus. Perusahaan-perusahaan tersebut kemudian mulai mencanangkan rebranding besar-besaran terhadap perusahaan. Dalam dunia print design, secara sederhana dapat dikatakan bahwa klien hanya akan membuang uang ketika mencetak berbagai media periklanan seperti brosur, flyer, dan baligo dengan desain yang buruk, karena tidak mendapatkan imbas/timbal balik yang maksimal kepada perusahaan.


Desain VS Setting

Dalam industri percetakan dewasa ini, dikenal dua istilah yang mungkin bisa menjadi tolak ukur dalam masalah ini. Kedua istilah tersebut adalah Desain dan Setting. Desain sendiri mungkin bisa didefinisikan sebagai proses merancang dan proses menciptakan ide-ide kreatif yang ditujukan untuk pencapaian pesan yang efektif. Dalam desain, dikenal adanya brainstroming dan pemikiran konsep-konsep dasar tentang bagaimana harus mengkomunikasikan pesan yang efektif kepada masyarakat atau konsumen. Sedangkan setting biasanya tanpa konsep, hanya bersandarkan pada pertimbangan estetika semata. Jika sudah bagus di mata klien, berarti pekerjaan selesai.

Jika mengacu kepada kedua istilah diatas, berarti yang selama ini ditawarkan sebagai layanan gratis sama sekali bukan "desain", tapi "setting". Penggunaan istilah "desain" juga yang bisa jadi membuat apresiasi masyarakat terhadap desain begitu rendah. Saya pribadi menaruh rasa prihatin kepada ribuan lulusan DKV setiap tahunnya yang menghadapi kenyataan seperti ini ketika keluar dari kampus. Mereka yang belajar tipografi, nirmana, simantic, dsb harus pasrah menerima ketika desain grafis hanya dianggap sebagai suatu profesi gratisan.

Semoga artikel ini menjadi masukan yang bermanfaat kepada siapapun yang bergelut dalam bidang desain grafis. Segalanya yang mungkin kita lakukan akan dilakukan untuk kemajuan desain grafis indonesia yang lebih baik dimasa yang akan datang. Well, jika ada yang ingin ditanggapi, jangan ragu untuk dishare melalui kolom komentar. :)

Share On:

18 Responses to “ Fenomena Desain Gratis ”

  1. Sebuah fenomena yang paling sering di kemukakan, yang menimbulkan banyak hal.

    Disuatu sisi desainer merasa di rugikan. Dan satu sisi desainer meremehkan tukang seting.

    Siapa yang di salahkan?? tukang seting atau desainer?? menurut saya yang disalahkan pebisnis.

    Karena bagi mereka untung lebih di utamakan, yang kena semprot tukang seting,dia diremehkan teman-teman desainer dan di rody ama bos.

    sedih benar nasibmu seting!!

  2. ajir says:

    @ikaz : hehe, spertinya penempatan itu penting..kalo hrs bkerja setting, kerjakan dgn gaya setting alias asal jadi..tp di luar itu, do the best things that you can do.. :D

  3. Tidak hanya bagi mereka yang bisa menggunakan Sotoyshop saja.

    Saya pernah mendapati perusahaan arsitektur yang membayar jutaan rupiah untuk sebuah website tablebased dengan usabilitas yang minim... kok bisa? haha...

  4. ajir says:

    @Ardianzzz : Wow, sepertinya klien harus hati-hati..yg berbayar jutaan rupiah saja bisa mengecewakan, apalagi yang gratis!? :D

  5. @Ardianzzz: Contoh gampang, situs pemerintah kita ini. Prestasinya lumayan masuk ke noupe, http://www.noupe.com/showcases/the-ultimate-ugly-showcase-of-current-government-websites.html.

    "Indonesias government website looks a little like several different images merged together to create a banner style header with almost impossible to read text."

    Entah berapa ratus juta dana yang dikeluarkan pemerintah pusat. Di kota saya, katanya 200 juta+ untuk situsnya. Itu baru situs pemda kabupaten.

  6. Indonesia.go.id?
    Tablebased, hierarki tidak jelas, fluff animation, link & warna tidak konsisten! ada lagi? terlalu banyak, males nyebutin satu satu

  7. sebelum bermimpi tentang "desain grafis harus begini harus begitu" lebih baik selamatkan diri masing-masing..... kayak gue semenjak membuka "DESAIN GRAFIS HARGA GROSIR" hidup gue terselamatkan....ha..ha..ha..ha..ha..ha..

    sekarang giliran elo-elo yang harus cari cara buat nyelamatkan hidup kalian masing-masing

    thanks

    JASA DESAIN GRAFIS (HARGA GROSIR)
    HARGA SERBA Rp. 20.000
    MURAH, CEPAT, BAGUS DAN PROFESIONAL

    KLIK : www.ruangkreatif.com

  8. ajir says:

    @ruang kreatif : Hehe, semuanya punya segmentasi masing-masing. Cuma yang disayangkan penggunaan kata "Desain". Kasian sob, temen2 yg kuliah Desain kalo desain dihargai cuma Rp. 20000.

    Well, pada akhirnya semua punya konsumennya masing-2..klien yg ingin kualitas desain bagus akan milih desainer dengan kualitas bagus pula. :)

  9. untuk membedakan makna ato penggunaan kata-kata desain dan setting emang susah, karena sudah terlalu di rusak oleh orang2 yang ga bertanggung jawab..mulai dari pebisnis sampe para desainer (lulusan DKV) yang ga mampu menghargai diri sendiri.

    Desain itu bukan industri ritell, jadi ga bisa di hitung dengan faktor pengali untuk meraup ke untungan dan menghitung laba rugi...

    sementara setting bisa di katagorikan industri ritell, karena kita bisa menghitungnya dengan faktor pengali, alias semakin banyak yang bisa di selesaikan dalam satu hari semakin banyak uang yang di dapat..oya setting memang lebih ke operator sopwer dan komputer aja..dan tentunya setting tu ga pake mikir yang rumit..cuma estetika sederhana saja...

    btw sekarang juga sudah banyak sekali desainer yang tidak mempertimbangkan ORISINALITAS karya, sehingga harga pun bisa di murahin dan akhirnya masyarakat pun akan menilainya MURAH karena cuma ATM.

    tapi intinya masih2 rejekinya sudah di atur ama Allah, so siapa yang mampu berusaha akan tetap bertahan...

    sekian dulu berbagi pengalaman dari Banda Aceh yang aprisiasi masyarakatnya terhadap desain sudah mulai tumbuh walau banyak yang sediain desain Gratis...

    Salam JROH....there is no free lunch and desain..

  10. ajir says:

    @Zoel JROH : Thanks Bg Zoel, nice share!
    memang untuk kondisi negara yang masih membenahi hal-hal pokok seperti Indonesia, terkadang kualitas dan idealisme harus dikesampingkan. Ketika terlalu banyak konsumen tidak mau membayar mahal utk kualitas desain yg bagus, desainer terpaksa hrs menurunkan kualitas dan (bila perlu) mengesampingkan orisinalitas agar job ttp ada.

    Saya setuju sekali sama poin terakhir! Pada akhirnya yang benar-benar mampu bertahan adalah yang berusaha lebih baik. Berusaha untuk terus meningkatkan kemampuan desain dan membuat inovasi dan terobosan-terobosan baru dalam desain.

    Sekali lagi, thanks for share bg! :)

  11. positif thinking aj gan... ilmu itu amal jariyah dan siapa orang yg memberi secara gratis ilmunya pun tak akan ada ruginya (ilmu yg bermanfaat). kalo bicara bisnis yg rugi adalah yg kurang kreatif.

  12. arif says:

    http://www.desaingratis.in/ Saya sangat senang dengan pendapat temen2 yang memberikan komentar, bisa jadi saya termasuk bagian dari pembicaraan ini. Di website yang saya tawarkan adalah gratis bagi yang tidak mampu membayar tapi pengen mendapatkan jasa desain, dan diwajibkan bayar bagi yang mampu membayar, karena jika kita samakan semuanya , maka kezhaliman terjadi. Saya mencintai desain, karenanya karya yang saya buat tidak dipengaruhi besar kecilnya bayaran. Berkarya itu bagian dari kecintaan yang saya lakukan. Kontroversi gratis....mematikan atau merndahkan, saya kurang setuju. Percayalah ...berkaryalah semaksimal mungkin, masyarakat akan menilai kita berkualitas atau tidak. Jangan pernah hidup dibatasi oleh sesuatu yang kamu tidak nyaman didalamnya. mudah2an bisa memberikan manfaat,.... sukses terus untuk desainer & muliakan diri dengan memberikan kemanfaatan.
    (Arif Owner http://www.desaingratis.in/)

  13. nold says:

    saya termasuk yg pertama
    -Prestise-

    soalnya saya emang lagi latihan
    masih pelajar,
    Prestise sama Pengalaman (Ilmu)
    itu yg pling penting buat saya sekarang =)

  14. Hari yang indah adalah Hari yang dapat membuat Hidup orang lain merasa nyaman
    dan Dengan Desain saya Coba buat Hidup semua teman
    kerabat , mungkin lebih Nyaman
    tapi untuk Biaya saya Harap semua PARA DESAINER INDONESIA BISA TETAP LOYALITAS...
    sekian Comment dari saya Gan,,
    maaf kalau ada salah kata. :D

  15. aaN says:

    Padahal logika sederhananya desainer grafis ga jauh beda kerjaannya sama tukang perabot. Mereka ikut meancang UI perabotnya trus ongkosnya diambil dari biaya kerja + ongkos cetak. Jadi kalau desain digratiskan kita cuma ambil biaya cetak aja. Jadinya desainer ngga' seprofesional sama tukang perabot. Hingga detik ini masalah desain gratis bener2 jd fenomenya. Tulisan bro Ajir smoga bisa membantu para desainer utk menentukan sikap dan cara yg ditempuh utk bisa menarik konsumen/klien yg pada hasil akhirnya sama2 mendapatkan kepuasan antara keduabelah pihak.

  16. aaN says:

    maaf ralat dari komentar saya sebelumnya ..
    "Padahal logika sederhananya desainer grafis ga jauh beda kerjaannya sama tukang perabot. Mereka ikut meancang UI perabotnya trus ongkosnya diambil dari biaya kerja + ongkos cetak."

    seharusnya :
    Padahal logika sederhananya desainer grafis ga jauh beda kerjaannya sama tukang perabot. Mereka ikut meancang UI perabotnya trus ongkosnya diambil dari biaya kerja + biaya bahan.

    demikian ralat dr saya dan mohon maaf atas segala kekurangan :)
    Salam sukses buat semuanya..

  17. Anonim says:

    yaaah kembali pada diri masing masing *merenung, resapi dan berfikir lebih kreatif lagi serta out of the box*. kata "DESAIN" yang menggandeng kata "GRATIS" ini sudah terpatri di pikiran khalayak umum. susah bahkan kemungkinan besar tidak bisa dirubah lagi. masalah ini sudah mengakar jauh..

    tak heran desainer larinya lebih mencari pasar luar negri dibanding di INDO sendiri. cz diluar masih dihargai untuk profesi jual jasa desainer grafis. itu bagi yang sudah terbuka dan mampu, yang belumpun juga masih banyak mencari cara bertahan hidup di dunia yang keras disini #halaaahh :D

    saya ada sebuah pertanyaan dalam benak, apakah masih bisa diselamatkan dan diubah kata desainer itu di mata khalayak umum untuk pasar indonesia ???? melihat banyak advertasing kecil percetakan digital printing yang mengatas namakan desain gratis dalam metode marketing penjualan mereka..

  18. @ruang kreatif : gila.. gw kuliah 7 taun dan ngeluarin biaya yang ga sedikit buat jadi desainer. cuma dibayar 20 ribu?
    harga adobe photoshop Cs6 aja 770 USD.. itu baru modal software. belum ngitung biaya belajar.. bisa gila! hahaha

Leave a Reply