20100729

Efek Foto Klasik (Vintage) dengan Photoshop

Efek foto dengan gaya klasik (vintage) adalah suatu efek yang kemudian populer di kalangan para pengguna photoshop. Efek foto seperti ini selalu mampu menggambarkan cerita yang berbeda pada setiap yang melihatnya. Di tutorial photoshop kali ini, kita akan belajar untuk menerapkan salah satu tehnik membuat gambar biasa menjadi bergaya klasik dan terkesan seperti foto-foto jaman 80-an. Lets get started..



STEP 1

Masukkan gambar yang ingin diberikan efek vintage ke Photoshop. Gambar pada tutorial kali ini bisa ditemukan disini. Beri nama layer dengan nama 'foto'.



STEP 2

Pilih layer foto lalu klik tombol Create new fill or adjustment layer di bagian bawah layer palette, lalu pilih Hue/saturation.

tips : tekan dan tahan tombol Alt di keyboard dan baru lepas setelah Hue/saturation terpilih. Langkah ini untuk membuat adjustment layer diaplikasikan hanya kepada layer terpilih.



STEP 3

Pada panel Hue/Saturation, atur nilai Saturation = -61 dan Hue= -18 (lihat gambar dibawah)



STEP 4

Berikan adjustment layer lain untuk layer foto dengan cara yang sama (tekan dan tahan tombol Alt) lalu pilih Exposure. Atur nilai yang terdapat pada panel Exposure seperti pada gambar dibawah ini.



STEP 5

Pilih thumbnail disamping thumbnail layer exposure, kemudian gunakan brushes tool (B) dengan opacity 50 %. Pastikan warna foreground (warna depan) adalah hitam dan sapukan brushes kebagian tengah hingga yang tersisa hanya bagian pinggir.



STEP 6

Buat layer baru dengan nama layer 'bercak foto' lalu pastikan warna foreground adalah putih dan fill layer 'bercak foto' dengan Paint Bucket Tool (G). Jika sudah, pada Menu Bar pilih Filter > Noise > Add Noise. Atur nilai pada Amount = 40 %, pilih Gaussian dan conteng tanda check list pada Monochromatic kemudian klik ok.



STEP 7

Gunakan Magic wand tool (W), lalu klik di salah satu tempat pada layer bercak foto hingga sebagian bercak terseleksi, jika sudah tekan delete untuk menghapus bercak yang terseleksi tersebut.



STEP 8

Ganti Blending mode layer bercak foto ke Overlay dan Opacity ke 70 %. Untuk menambahkan kesan vintage pada foto, buat beberapa garis asal menggunakan brushes tool (B) dengan ukuran kecil seperti gambar dibawah ini.



STEP 9

Buat layer baru lagi dan beri nama layer dengan nama 'tekstur' lalu warnai layer dengan warna putih. Kemudian pada Menu Bar pilih Filter > Texture > Grain, pada jendela texture grain, atur nilainya seperti pada gambar dibawah ini. Jika sudah klik ok.



STEP 10

Ganti blending mode dari layer tekstur menjadi Softlight dan Opacity menjadi 50 %.



STEP 11

Pada langkah terakhir, kita akan kembali kepada layer 'foto'. Pilih layer 'foto' lalu pilih Filter > Noise > Add Noise. Pada jendela Add Noise, ganti nilai Amount menjadi 10, pilih Gaussian dan conteng tanda check list pada Monochromatic.




Well done! Kita telah selesai membuat sebuah foto biasa menjadi foto dengan gaya klasik (vintage) di photoshop, dan inilah hasil akhirnya...



Selamat mencoba, semoga bermanfaat! :)

Read More..

20100728

6 Ciri dari Logo yang Baik

Jika bicara soal keindahaan/estetika dalam sebuah logo, mungkin kita akan terbentur tanpa adanya akhir karena sifatnya yang sangat relatif. Namun ketika berbicara masalah baik atau tidak, kita akan mengacu kepada fungsionalitas, Dimana sebuah logo dinilai dari fungsi dan tujuannya. Kali ini kita akan melihat beberapa ciri-ciri dari logo yang baik dan mungkin bisa menjadi tips bermanfaat buat para pembaca Desain Studio semua :


Ciri-ciri dari Logo yang Baik adalah :

1) Sederhana

Logo yang baik adalah logo yang sederhana (simple). Kesederhanaan membuat logo mudah diingat dan fleksibel ketika diterapkan kedalam berbagai media visual.



2) Unik

Namun sederhana saja ternyata tidak cukup. Logo yang baik juga harus unik dan mudah dibedakan dengan logo lain (khususnya logo dari pesaing).



3) Mudah Diingat

Ciri selanjutnya dari sebuah logo yang baik adalah mudah untuk diingat. Logo yang mudah diingat akan mendukung perusahaan tetap dalam posisi teratas dalam ingatan konsumen. Secara tidak langsung ini akan meningkatkan penjualan dan omset dari perusahaan.



4) Tahan Lama

Logo yang bertahan lama tentu akan sangat menguntungkan perusahaan. Redesign sebuah logo akan memakan banyak biaya dan waktu. Selain itu, perubahan logo juga dapat membingungkan konsumen dan bahkan bukan tidak mungkin akan kehilangan banyak pelanggan.



5) Fleksibel

Logo akan digunakan kedalam berbagai media visual seperti stempel, akrilik, faktur dll. Oleh karena itu, sebuah logo yang baik harus bisa ditempatkan kepada berbagai kondisi dan tetap tidak kehilangan bentuk sebenarnya.



6) Sesuai

Ciri lain dari logo yang baik adalah kesesuaian. Logo harus bisa menggambarkan apa yang ditawarkan oleh perusahaan. Dalam hal ini, tag line mungkin bisa menutupi. Namun kembali lagi kepada kondisi dimana sebuah logo harus ditempatkan kedalam berbagai media visual dan harus berdiri sendiri tanpa adanya tag line.




Semoga bermanfaat! :)

Read More..

20100727

Designer Choice ▬ Studio, In-House, atau Freelance?

Designer Choice▬Studio, In-House, atau Freelance?Ada banyak tempat maupun kondisi dimana seorang desainer grafis bisa mendapatkan penghasilan. Namun yang umum dan lazim diketahui adalah tiga : Studio, In-House, dan Freelance. Berikut ini mungkin hanya pendapat pribadi Saya yang Saya angkat melalui pengetahuan mengenai ketiganya. Karena saya hanya punya pengalaman pada sebagian dari ketiga hal tersebut, Saya sangat berharap pembaca yang lebih berpengalaman untuk ikut sharing berbagi pengalaman masing-masing disini. :)


1) Studio

Bekerja di studio desain sejenis advertising, agency, dan studio kreatif lain bisa diibaratkan dengan kerja kantoran untuk sebuah perusahaan. Dalam kondisi ini biasanya desainer akan menghadapi beragam klien dengan berbagai tipikal masing-masing. Selain itu, desainer di studio biasanya harus bekerja dalam deadline yang padat, dan bekerja dengan deadline yang sangat dekat bisa mengakibatkan desainer miskin ide, dan jarang mengaplikasikan proses kreatif dalam pembuatan desain.

Hal-hal lain yang menjadi nilai minus bagi desainer dari bekerja di studio desain adalah waktu kerja. Standar jam kerja pada studio desain biasanya berkisar antara 7-9 jam perhari. Ini akan membuat desainer tidak punya cukup banyak waktu untuk refreshing atau sekedar mengembalikan kondisi otak kepada kondisi yang fresh. Padahal keadaan yang demikian diperlukan desainer untuk menciptakan ide-ide kreatif pada saat membuat sebuah desain.

Designer Choice▬Studio, In-House, atau Freelance?
image source


Namun desainer yang bekerja di studio desain biasanya akan lebih mampu menguasai desain dan penggunaan tool-tool desain karena mereka diharuskan bekerja dengan cepat oleh perusahaan. Selain itu, variasi project yang dikerjakan akan mengasah kemampuan desain dari desainer itu sendiri.

Nilai plus lain dari desainer yang bekerja pada studio desain adalah kondisi kerja yang ramai dan banyak orang yang bisa diajak bicara, sehingga mungkin desainer tidak akan bosan dan kadang-kadang rindu dengan aktifitas kantor pada saat sedang berada dirumah. Satu lagi, desainer yang bekerja di studio desain biasanya mendapat penghasilan secara tetap walaupun jumlahnya standar.


2) In-House

In-House designer adalah desainer yang khusus menggarap desain dari suatu perusahaan tertentu seperti XL, Telkomsel, A Mild, dsb. Desainer In-House biasanya bekerja dengan lebih santai karena project yang harus dikerjakan tidak sebanyak desainer yang bekerja di studio desain. Selain itu, desainer In-House biasanya punya penghasilan yang besar (setidaknya dibanding dengan di studio desain).

Designer Choice▬Studio, In-House, atau Freelance?
image source


Nah, kerja santai dan gaji besar, cukup!? Belum tentu. Desainer in-house akan bekerja sendiri hingga tidak banyak orang yang bisa diajak bicara, walhasil kemungkinan mengalami kebosanan akan lebih besar terjadi. Kekurangan lain dari bekerja di In-House adalah project desain yang tidak variatif dan itu-itu saja. Ini mengakibatkan desainer tidak mendapat cukup latihan untuk pengembangan ilmu desain maupun penguasaan tool.


3) Freelance

Mungkin banyak orang yang beranggapan bahwa bekerja sebagai freelancer itu enak. Kerja bebas dimana saja, mau di kasur, di toilet, atau mungkin di cafe. Dan mungkin desainer freelance akan lebih punya banyak waktu luang untuk melakukan apapun. Seperti jalan-jalan, ke pantai, dsb. Namun tunggu dulu..Desainer freelance ternyata dihadapkan kepada berbagai permasalahan.

Designer Choice▬Studio, In-House, atau Freelance?
image source


Permasalah utama adalah penghasilan yang tidak tetap. Freelance Designer akan dituntut membangun pasarnya sendiri dan merangkap menjadi marketing sekaligus. Maka tak heran kalau freelance designer sering diharuskan untuk menjemput bola dan mendatangi kliennya lebih dahulu untuk menawarkan jasanya. Permasalahan lainnya mungkin sama seperti yang terjadi pada desainer in-house. Freelancer akan bekerja sendirian dan akan membosankan karena tidak ada yang bisa diajak bicara dan sharing seputar desain.

Desainer freelance biasanya punya kapasitas diatas rata-rata dan kemampuan komunikasi yang cukup baik. Kabar baiknya adalah seperti yang telah diungkapkan diatas tadi, freelance designer akan lebih bebas, tidak terikat, tidak punya bos, dan bebas untuk memilih project apa yang ingin dikerjakan. Selain itu, peluang untuk jadi kaya juga lebih besar karena penghasilan yang didapat akan sepenuhnya masuk ke kantong desainer karena bukan dengan sistem gaji atau persentase keuntungan.


Nah, bagaimana dengan kamu? pernah punya pengalaman bekerja sebagai desainer dalam tiga kondisi diatas? silahkan sharing dengan pembaca lain di kolom komentar. :)



Read More..

20100726

17 Tutorial Photoshop untuk Membuat Poster Film

Photoshop memang aplikasi yang cukup tangguh dalam hal manipulasi foto dan lain-lain. Seperti halnya poster film yang mengandalkan keunggulan efek pada adegan-adegannya, Efek yang sama juga mampu digambarkan oleh Photoshop melalui cover maupun poster. Beberapa tutorial Photoshop dibawah ini mungkin bisa jadi bacaan yang cukup bagus untuk mengasah kemampuan menggunakan photoshop. Selamat Mencoba..!



Action Movie Poster




Anaglyph Poster




City Style Poster




Crazy Movie Poster




Crear Poster




Create Sci-Fi Poster




Creepy Movie Poster




Grunge Poster 3D




Horror Movie Poster




Indiana Jones Poster




Intense Movie Poster




John Rambo Movie Poster




Lord of The Ring




Powerball Movie Poster




Quality DVD Cover




War Movie Poster




X-Men Movie Poster





Read More..

20100725

7 Tips Memilih Font untuk Desain Logo

7 Tips Memilih Font untuk Desain LogoFont adalah hal yang vital dalam sebuah logo. Dalam logo, font bisa jadi sebuah tag line dan bisa jadi adalah logo itu sendiri. Logo dengan Pemilihan font yang buruk akan mengakibatkan penyampaian pesan yang tidak baik kepada konsumen. Hal ini tentu akan berakibat fatal bagi eksistensi perusahaan itu sendiri. Berikut beberapa tips yang harus diperhatikan ketika memilih font dalam desain logo, Semoga bermanfaat.



1) Font Default

Semua orang tau Arial, Times New Roman, dan Myriad Pro. Itu adalah contoh font-font yang secara default telah terinstal pada OS Window yang dipakai oleh banyak orang. Cobalah gunakan font-font lain untuk membuat logo terlihat lebih unik dan khas.

7 Tips Memilih Font untuk Desain Logo


2) Font yang Buruk

Jangan terlalu terkesima dengan tampilan-tampilan font yang unik seperti Comic Sans, Curiz MT, Papyrus, dll. Beberapa font unik terdapat secara default di OS Window dan semua orang mengenalnya. Hal ini tentu akan membuat logo tampil dengan tidak unik dan terlihat "pasaran". Selain itu, mempelajari Typography (kerning, serif, spacing, dsb)juga hal yang cukup penting untuk dapat mengenal font dengan kualitas yang buruk.

7 Tips Memilih Font untuk Desain Logo


3) Font yang Sulit Terbaca

Perhatikan keterbacaan (Readibility) dari suatu font. Banyak sekali font yang (mungkin) terlihat cantik tapi sangat sulit untuk dibaca apalagi jika dilihat sepintas lalu. Selain itu, hindari penggunaan shadow dan bevel untuk logo. Hal ini akan membuat font semakin sulit terbaca. Ingat! logo akan digunakan kedalam banyak sekali media visual seperti stempel, akrilik, faktur, dll.

7 Tips Memilih Font untuk Desain Logo


4) Font yang Terlalu Tipis

Mungkin beberapa font tipis akan bagus terlihat di monitor komputer. Namun ketika melalui proses produksi printing dan percetakan, font mungkin akan tenggelam dan tidak kelihatan. Hindari menggunakan font yang terlalu tipis. Logo yang baik adalah logo yang akan tetap jelas terlihat dalam berbagai ukuran. Coba perkecil ukuran logo untuk mengecek keterbacaan font.

7 Tips Memilih Font untuk Desain Logo


5) Font yang Tidak Relevan

Bentuk dari sebuah font menyuarakan makna tersendiri. Seperti font yang tipis akan terlihat seperti suara seorang wanita yang lembut dan halus. Sebaliknya, font yang tebal akan terlihat seperti suara yang berat dan tegas. Hati-hatilah dalam memilih font agar tetap relevan dengan usaha dari logo yang anda desain. Font yang tidak relevan akan dengan mudah membuat sebuah logo terlihat amatiran.

7 Tips Memilih Font untuk Desain Logo


6) Terlalu Banyak Font

Menggunakan terlalu banyak font akan membuat logo terlihat berantakan, tidak memiliki kesatuan dan terlihat amatiran. Orang-orang akan bingung ketika melihat sebuah logo dengan banyak font (lebih dari dua jenis font) dan tidak bisa menangkap maksud apapun dari logo tersebut.

7 Tips Memilih Font untuk Desain Logo


7) Feedback itu Penting!

Jangan lupa untuk mendapatkan cukup feedback dari orang-orang sekitar. Baik itu sesama desainer maupun non-desainer. Hal ini akan membuat kita mendapat banyak masukan yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya.

7 Tips Memilih Font untuk Desain Logo


Ada lagi yang mau ditambahkan? Jangan lagu untuk sharing melalui kolom komentar dibawah. :)

Read More..
kembali ke atas