20100826

5 Alasan Sebaiknya Kamu Berhenti Menjadi Desainer Grafis

5 Alasan Sebaiknya Kamu Berhenti Menjadi Desainer GrafisSebagaimana sebuah profesi pada umumnya, desain grafis juga punya resiko-resiko tersendiri yang harus dihadapi oleh orang yang menggelutinya. "Wow, resiko!? Bukankah jadi desainer grafis itu menyenangkan? penuh dengan kreatifitas dan mungkin akan dianggap cool oleh sebagian orang". Kelihatannya seperti itu. Namun faktanya, ada beberapa poin penting terkait resiko yang harus diperhitungkan desainer grafis. 5 alasan utama kenapa menjadi desainer grafis itu bisa jadi cukup menyebalkan.







1) Adaptasi dengan Segala Hal

5 Alasan Sebaiknya Kamu Berhenti Menjadi Desainer Grafis

Desainer grafis dituntut untuk beradaptasi secara maksimal untuk setiap projek yang digelutinya. Contoh, seorang free style artist tidak bisa menjadi desainer grafis, dia hanya cocok menjadi seniman. Kenapa? karna dia terlalu fanatik dengan gaya visualnya sendiri, sehingga ketika dihadapkan kepada projek-projek yang sifatnya corporate dengan tuntutan elegan dan clean dalam desain, dia kesulitan melakukannya. Desainer grafis ibarat seekor bunglon, yang harus bisa menyesuaikan diri dengan baik dalam setiap projek. Oleh karena itu, pengetahuan yang luas dalam berbagai bidang pun dibutuhkan. Hal ini yang membuat kenapa desain grafis merupakan profesi yang sangat berat (setidaknya menurut saya).


2) Keterampilan Teknis, Estetika dan..Masih banyak lagi..!!!

5 Alasan Sebaiknya Kamu Berhenti Menjadi Desainer Grafis

Cukupkah menguasai software grafis seperti photoshop, illustrator dan corelDRAW saja untuk jadi desainer grafis?? Tentu saja tidak! selain keterampilan teknis seperti penguasaan software, desainer grafis juga dituntut untuk punya nilai estetika yang tinggi dan kemampuan mengaplikasikannya secara visual. Belum lagi harus menguasai prinsip-prinsip dasar desain dan dasar penggunaan elemen-elemen grafis didalamnya. Untuk kali ini, kita kesampingkan dulu typografi, warna, dan lain-lain agar tidak terlalu banyak. Tapi oooh...ternyata desainer grafis juga harus pintar berkomunikasi dan punya kemampuan marketing minimal tingkat dasar. Dan jangan lupa, kemampuan menggambar manual menjadi poin tambahan. Oh no! Sebanyak inikah yang harus dipelajari untuk menjadi desainer grafis!?


3) Hidup Terasa Lebih Berat

5 Alasan Sebaiknya Kamu Berhenti Menjadi Desainer Grafis

Hidup terasa lebih berat ketika menjadi desainer grafis! Kenapa!? Lihat saja, ketika anda sedang jalan-jalan sore dan melihat berbagai media advertising di kanan dan kiri dengan tampilan visual yang menyakitkan mata, kebanyakan kita akan menggerutu. "Oh shit! Jelek sekali!!!". Contoh lain, ketika beli DVD, lagi-lagi kita memaki karna font yang digunakan dalam cover DVD sangat norak dan ketinggalan jaman, lagi-lagi kita mengeluh dan menggerutu. Menimbang-nimbang seandainya font yang digunakan adalah font ini—font itu, pasti lebih baik. Dan coba bayangkan, mungkinkah sehari saja kita tidak melihat media-media grafis seperti contoh-contoh diatas!? Itulah sebabnya kenapa menjadi desainer grafis seperti mendadak bisa melihat hantu, sampah visual dimana-mana!


4) No Time to Rest!

5 Alasan Sebaiknya Kamu Berhenti Menjadi Desainer Grafis

Ketika orang-orang dengan profesi lain bersantai dan bergembira ketika liburan, desainer grafis malah sibuk berpikir hal-hal kreatif dan menemukan ide-ide baru. Hal ini memang sama sekali bukan keharusan, desainer grafis tidak pernah dipaksa untuk berpikir saat tidak sedang bekerja. Tapi ketika kamu terjun lebih jauh kedalam bidang ini, kamu akan mendapatkan bahwa berpikir kreatif dan menemukan ide-ide baru adalah suatu kebutuhan dan tidak bisa dielakkan. Seperti candu, otak akan dipaksa terus menuai hasil, diajak bekerja keras dan selalu butuh asupan informasi inovatif untuk dikonsumsi. Ohh..bukan kah itu berat!? Tidak ada waktu untuk beristirahat!!!


5) Who Care!?

5 Alasan Sebaiknya Kamu Berhenti Menjadi Desainer Grafis

Orang-orang diluar sana tidak begitu tertarik dengan desain grafis. Desain grafis bukan suatu profesi yang cukup populer di Indonesia. Bayangkan! Begitu banyak yang harus dipelajari desainer grafis tapi tidak ada satu orang pun yang peduli. Hal ini bisa dilihat dari apresiasi masyarakat yang sangat rendah terhadap desain grafis. Mereka melihat desain grafis adalah profesi sambilan para siswa dan mahasiswa yang iseng dengan software-software grafis yang terinstall di komputer masing-masing.


Well, bagaimana dengan kamu!? setujukah dengan pernyataan-pernyataan diatas? Masihkah ingin terus jadi desainer grafis!?
Desain Studio terbuka terhadap segala kritik dan masukan. Silahkan bagi pendapat kamu melalui kolom komentar dibawah. :)


50 komentar:

Memang ketika mendalami desain, kita lebih peka terhadap aspek estetika di sekitar kita. Saya sekarang ketika lihat bagian awal film, yang dipikirkan itu tipografinya, bukan isi ceritanya.

Masih banyak yang menganggap desain itu cuma sekadar mengoperasikan software.

@Jeprie :Iya bg!
Desain grafis mmg bukan lagi sekedar profesi maupun hobby jika sudah menekuni lebih dalam. Di satu sisi memang menyenangkan, tapi disisi lain cukup menguras pikiran dan tenaga.

Sayang jika desain grafis hanya sekedar dilihat dari mengoperasikan software. Seperti halnya semua ibu-ibu bisa menggunakan microwave, tapi tetap saja rasa dari masakan yang dihasilkan akan berbeda. :)

bener banget. jadi desainer grafis memang harus nguasain banyak bidang lainnya.
kesulitan2nya udah kerasa sejak kuliah, apalagi pas kerjanya tar. haha...
tapi kalo emang suka, pasti bisa. :D
dan kalo berhasil jadi desainer grafis yang mapan, pasti ada kepuasan tersendiri. IMHO. :D

kalo menurut aku.. dunia disainer ini begitu luas tidak sesempit dengan yg lima hal yang di tulis diatas... dunia disainer tiada batas,dan kerjaan nya itu tidak bisa underpresure (dibawah tekanan).. serta hasil karya seorang disainer itu sangat subjektif...

contoh : seorang disainer bernama fulan menerima orderan dari fulin untuk membuat stiker honda C70 denagn bayaran 300rb per unit.. tp hanya di beri waktu 2 jam
sementara ada seseorang pemuda setengah baya hanya meminta tolong (gratis) pada seorang temannya yg juga disainer untuk mendisain hal yang sama namun tidak ada batas waktu.. tentu hasil desain dari kedua desainer itu subjektif.. masing2 mempunyai alasan2 tersendiri terkait suatu karyanya.. tiada doktrin dan batas di dunia disainer.. maka jgn dibuat doktrin dan batas itu.. krn itu cerminan orang2 yang berpikiran sempit..

@Vincent : Iya, mmg jika sudah mampu melewati fase sulit sebagai desainer, kedepannya bakal menuai hasil yg memuaskan. Dan pada akhirnya, setelah seleksi alam yg ketat, hanya yg btul2 serius dlm belajar yg akan bertahan. Thanks for sharing Vincent! :)

@Gondrong Seram: Semua profesi spertinya memang tanpa batas, termasuk jg desain grafis. Selalu akan ada hal-hal baru yg ditemukan dan dipelajari setiap hari.

Artikel diatas jg tidak membatasi profesi desain grafis. Ini hanya fakta dan realita yg di hadapi desainer dalam profesi ini. Seperti halnya seorang dokter jg menghadapi fakta harus bangun tengah malam untuk melayani pasiennya, begitu juga dengan desainer grafis. Thanks gondrong seram sudah berbagi. :)

sama2 saya pun bisa nambah ilmu disini

kalau meurut saya, yang penting kita bisa menikmati setiap bidang pekerjaan yang kita geluti.

@Ghazi : Yup! apapun profesi yg digeluti, akan lebih menyenangkan jika kita menikmatinya. :D

@millati : sepertinya tidak buk..ini hanya pertimbangan-pertimbangan kecil terkait profesi ini. Jadi desain grafis tidaklah semudah yg org2 pikirkan. dan jika mmg tertarik utk menekuni, jangan setengah-setengah. :)

betul tuh, jika kita memang berniat menekuninya jangan setengah-setengah..., saya juga sedang belajar desain, memang cukup banyk kesulitan yang saya alami, tapi kita harus yakin dengan pilihan kita,,

emang betul sih dengan hal yang diatas...tapi kalo kita punya niatan untuk full nimbrung di desain dan gag setengah2,dijamin sedikit berbalik dari hal diatas...

curhat ni yee, yang penting mah jangan di jadikan beban bos!! klo emang gak sanggup menjadi desain grafis secara umum mending secara khusus aja, seperti jadi logo maker, illustrator, web designer, layouter, jadi ya lebih fokus.

kaya dokter, dokter gigi, dokter bedah dll. jangan jadi dokter umum. MUmang lah!!

nice share..

bedanya org2 designer berfikir menggunakan otak kanan,pemikiran diatas hasil dari pemikiran otak kiri.

@Ikaz: spertinya bukan masalah umum atau khusus. Poin di artikel diatas juga berlaku bagi desainer dengan spesialisasi khusus sekalipun. Sekilas terlihat seperti poin-poin berat dari profesi desain grafis. Tapi bagi saya, itu yg bikin desain grafis menyenangkan. :)

@Art_adza: Mungkin yg pure otak kanan itu seniman, desainer grafis malah harus juga piawai di otak kiri utk mencapai keteraturan dlm desain. :)

Saya termasuk orang yang tidak tertarik dengan desain graphis dan lebih memilih bidang teknik (engineering), profesi saya saat ini. Bukannya saya merendahkan profesi desainer graphis, tidak. Karena saya merasa bidang itu (graphis) bukan jiwa saya.

Artikel yang sangat menarik Mas Ajir. Saya tertarik ingin menanggapi ke-5 alasan Anda di atas.

1. Sebetulnya kemampuan harus bisa beradaptasi itu tidak hanya pada profesi desain grapis saja. Hampir semua profesi membutuhkan itu. Meski itu freelancer atau bukan seorang karyawan sekalipun. Bukankah kita pun tetap harus butuh beradaptasi dengan keinginan klien kita? Kecuali kalau kita bekerja buat diri sendiri, tak memberikan jasa buat orang lain, mungkin baru tidak berlaku alasan ini. Tapi adakah profesi yang begini?

2. Sependapat. Dan alasan ini juga berlaku pada semua profesi. Sebagai tambahan, memahami psikologi desain juga perlu diasah bagi seorang desainer graphis, Mas disamping aspek teknis, komunikasi, keahlian marketing dll.

3. Persaingan iklan (desain) memang sangat ketat dewasa ini. Hanya desain yang kreatif, yang berbeda dan unik lah yang akan ditengok konsumen. Selebihnya, benar hanya sampah mata yang bikin kita jadi makin pusing saja.

4. Betul. Ini salah satu tuntutan yang tidak bisa dihindari. Saat santai dan berlibur, justru itulah saat terbaik untuk menggali ide-ide baru yang segar.

5. Pada point ini, ini senasib dengan profesi saya. Profesi yang tidak populer. Saya pun kadang kesulitan menjelaskan diskripsi profesi saya apa kepada orang lain. Karena tidak semua orang paham apa pekerjaan saya kalau hanya menyebutkan dengan Engineer aja.

klo kita yakin dengan apa yang kita lakukan...kita pasti bisa. Semua bidang pasti ada resikonya.

@Joko: hehe, mmg iya sih..semua profesi jg menuntut kemampuan adaptasi seiring waktu. Namun mgkin pada desain grafis hal ini lebih terasa. Misalnya, suatu waktu kita mengerjakan projek milik sebuah hotel, kita hrs berfikir eksklusif, mewah, megah, elegan dll. Namun dilain waktu, kita mengerjakan projek utk toko mainan. maka kita juga harus berfikir fun atw berfikir dr sudut pandang anak-anak.

Ini baru dua contoh, sedangkan pada praktiknya..Desainer grafis harus mengerjakan banyak projek dgn target konsumen berlainan pada waktu yang berdekatan.

Thx sudah sharing Mas Joko. Sering ke Diptara.com tp baru tau kalo Mas Joko seorang Engineer. :)

@Shanty : Yup! betul sekali, tinggal pandai-pandai kita dalam menikmatinya. :)

waduh, udah kadung cinta mati ma desain grafis ne.. :p

sebesar apapun tantangnnya, buat saya, intinya musti banyak belajar. Everyone is a teacher, and every place is a school. Termasuk kalo liat desain orang lain, bagus ato nggak, tetep bisa dijadiin pemelajaran buat diri sendiri.

Makasi bgt artikelnya, bersyukur bgt bisa nyasar ke sini :)

jadi designer itu memang merepotkan, tapi menurut saya bagaimana kerepotan itu menjadi sebuah ide dimanapun, kapanpun, dan walaupun??
hehe.. tapi, kalo seorang designer gag ada job pasti gag bakalan berfungsi mas bakatnya.

bisa jadi referensi untuk mk critical thinking nih gan:
IMHO

1) Adaptasi dengan Segala Hal

Semua pekerjaan yang kita geluti memang harus beradaptasi dengan kita, kalau kita tidak beradaptasi dengan pekerjaan kita, buat apa kita kerjakan???

2) Keterampilan Teknis, Estetika dan..Masih banyak lagi..!!!

Dalam dunia kerja saat ini semakin ketat gan, jadi siapa yang paling kreatif dan inovatif maka ia yang akan lolos, jadi kenapa kita ga eksplor aja apa yang kita punya,


3) Hidup Terasa Lebih Berat

Justru dengan ini kita bisa melihat kesalahan yang terjadi di publik dan membuatnya lebih menarik dan siapa tau kita dapat merubahnya menjadi lebih menarik dan membuatnya tidak membosankan.

4) No Time to Rest!

Sepertinya jaksa yang sedang menangani kasus besat juga bakallan ga bisa tidur dan lainnya kalo cliennya belom beres kasus nya gan, :D

5) Who Care!?

balik persepsi itu, gan gimana caranya orang itu care sama yang namanya desain, atau kalo para desainer di indo ini merasa kurang di lirik, kenapa ga coba kirim desain kita ke luar sana, :D banyak kok orang kita yang udah jadi desainer di luar sana

ya ga gitu2 amat kali,,si amat aja ga gitu,,,PISS N KULS,,,GRAFIS GA DA MATINYE!

Santai aja bro... ngga usah terlalu tegang... seberapapun kemampuan kita yaa itu aja dulu kita manffatin dan maksimalin... jangan sampe stress... yang penting lakuin dengan hepi...

Di bawah happy ja....
seorang atlet di paksa mngeluarkan keringat tiap hari ja biasa ja tuh.....
Succes to sTudio dsigN

Wah, saya tidak terpikir sampai situ kak. Benar, saya sering mengkritik/menggerutu iklan-iklan di berbagai media dan secara tidak sadar saya adalah salah satu korban poin ke-3 tadi_ Aah, kini saya sadar, ternyata benar-benar sulit ya kak[?]

betul juga ya, jadi mikir... :)
thanks for share

saya bekerja di slah satu perusahhan yang baru buka ( 3 bulan). pekerjaan saya membuat Bosur (katalog) produk barang-barang yang dijual di perusahaan saya, dan saya juga dituntut untuk melakukan surver harga2 barang2 perusahaan pesaing....dlam hal ini saya ingin tahu...kira2 berapa penghasilan yang wajar seharusnya saya terima??? trims

saya bekerja di slah satu perusahhan yang baru buka ( 3 bulan). pekerjaan saya membuat Bosur (katalog) produk barang-barang yang dijual di perusahaan saya, dan saya juga dituntut untuk melakukan surver harga2 barang2 perusahaan pesaing....dlam hal ini saya ingin tahu...kira2 berapa penghasilan yang wajar seharusnya saya terima??? trims

@Crewlist : wah, kalau soal salary, banyak yg harus dipertimbangkan sob. Misalnya, waktu kerja, pengalaman kerja, dll. Apalagi disini kamu gak hanya mendesain, tapi jg mereview produk. Saya jg ga tw banyak soal ini. Tapi biasanya, standar diluar negeri desainer dibayar per jam. utk di Indonesia, spertinya blm ad standar khusus utk salary desainer.

sy anak muda yang tertarik dunia desain grafis(dan bermimpi untuk benjadi desainer kelas dunia^^,)sy sempat melanjutkan pendidikan 1tahun d jurusan DKV,dan sekarang tdk melanjutkan k s1(bukan alasan untuk berhenti menjadi desainer)yang pasti saat ini sy tetap termotivasi n tertarik kdunia desain grafis (sampai menjadi yang terbaik),


yang jadi pertanyaan apakah;
apakah pendidikan desaingrafis(DKV) mempengaruhi seseorang desainer untuk terjun lebih dalam k dunia desain grafis(design artis)?apakah sy harus mengambil gelar sarjana seni,SSN,SDS ,BOA dsb

THANKS
ym;argaamala

@argatraffic: Pada praktiknya, gelar tidak begitu perlu dlm desain grafis, kecuali jika ingin menjadi tenaga pengajar. Desain lebih kompetitif. artinya, siapa yg berkualitas, maka dy akan bertahan.

kalo pendidikan Desain grafis, menurut saya perlu sob, karna itulah yg bedain desain grafis profesional sama jalanan (dlm hal ilmu). Ya tapi ilmu bisa didapat gak harus dgn kuliah. Saya sendiri ga kuliah di DKV, tp pede aja nyemplung ke desain grafis :D

yg penting kita harus terus belajar utk menjadi lebih baik, kelemahan krn ga kuliah formal hrs bisa ditutupi, bisa dgn browsing, baca-baca buku DKV, dsb.

wah,,gak mutu,,
Jika jadi desainer grafis karena memang benar-benar dari dalam hati, gak mungkin jadi seberat yang Anda tuliskan itu. Justru 5 hal itulah yang membuat seorang desainer grafis sejati menjadi nyaman dalam berkarir....
Trus, klo seorang desainer grafis harus jadi bunglon (bisa menjadi style ini itu), menurut saya gak harus. setiap desainer punya passion nya masing2, dan juga style, yang membuat dunia grafis ini menjadi unik.

@Hadiyan: Kita sebagai desainer grafis pasti punya berbagai macam klien dengan berbagai macam target market pula. Target marketnya bisa dari golongan A sampai golongan C, dari bayi sampai kakek-2. Jadi, maksud yang bunglon di atas adalah bagaimana desainer beradaptasi menyampaikan pesan visual dengan beragam target market yang dituju, dan sama sekali bukan masalah style desain.

Kalo tidak setuju dgn pendapat diatas tidak masalah..setiap orang merdeka utk mengutarakan pendapatnya masing-masing. Thanks for sharing Hadiyan! :)

cooL mank.....
Tapi keNapa haL ini ga bisa buat gue mundur yah....
dan berhenti beLajar tentang Desain Grafis....

PoinT2 di atas menurut gue bisa jadi sebuah tantangan yang mengasyikan....
apaLagi PoinT ke-2....
oh shiiiittt.....
I Like This.....

@bolehngeblog : Thanks sob! :)

@Wahyu: Iya betul! Seharusnya poin-poin diatas dijadikan motivasi untuk terus berkembang sebagai desainer, dan bukan malah menyerah lalu mundur. Thanks sob! :)

Setelah 10 thn lebih menggeluti dunia desain grafis yang saya rasakan mendapatkan 2x kepuasan di banding profesi yang lain, selain materi juga kepuasan bathin atas karya kita yang dipakai baik di daerah, nasional apalagi international, kita bisa menceritakan ke anak, istri/suami, saudara, teman, pacar, sahabat dan orang-orang yang kita kenal, bagaimana proses suatu desain, sehingga terpajang di etalase, iklan televisi, Billboard, Majalah, koran.. terbentuk dan kita bangga karena terlibat di dalamnya...

so..tau lu.!!!
gw udh beberapa taun jd desainer grafis tp hidup gw enjoy2 aja tuhhh.malah gw merasakan kepusan yg berbeda dr kerjaan yg lain.
jadi..suatu pekerjaan akan terasa sulit apabila org tsb menyulitkannya..
hahhahaa

Bnr bangt.. aq juga kdang jenuh banget pny profesi jadi desain grafis..!! TAPI, AKU MENCINTAI DIRIKU YANG JADI DESAINER,, karena ini ilmu yang LUARBIASA hebat,,, SEMANGAT buat para desiner yg lain!!! I LOVE DG..

Pada dasarnya mau jadi apapun kita, sebaiknya sesuaikan dengan apa yang menjadi passion/ hasrat kita.

Beberapa point di atas juga tidak akan kita keluhkan jika memang itu passion kita sebenarnya.
Desainer itu juga macam2. Ada yang bekerja secara kantoran, di agency, in house, atau freelancer.

Masing2 punya tipe yang berbeda2. Sepertinya tipe tersebut juga pernah dibahas di blog ini ya?

Belum lagi kalau mau difokuskan lagi, desainer itu bisa macam2.
Ada desainer yang memfokuskan pada logo, pada layout, typographer, atau sebagai komikus.
Ada yang mampu melakukan semua, ada juga yang memaksakan pengen bisa semua yang pada akhirnya ga fokus. Tapi itu balik lagi pilihan seseorang.

Jika passionnya tidak disitu, lama2 dia sadar juga ko.

Sekedar bercerita, dulu banyak teman2 saya di senirupa, ada yang secara skill drawingnya sangat kuat, ternyata sekarang lebih memilih fotografi. Jago mendesain dan sekarang sibuk di Forex. Ada yang jago melukis realis sekarang menjadi Sutradara video. Ada yang jurusan desain sekarang memilih menjadi seniman.

So pada akhirnya diri kita yang tau kita bakal kemana.

Soal point ke 5. Ini memang kondisi yang sangat pelik di negara kita. Cuma bisa diubah kalo dari desainer sendiri mau berubah. Ya mungkin dimulai dari kita sendiri menghargai karya kita, mulai mengedukasi klien tentang font yang benar. Jangan menambah sampah visual juga.:D

Sekedar sharing neh.

Berikut beberapa orang hebat di dunia kreatif pilihan saya.:D

Dik Doank - Desain Grafis IKJ
sempat menghasilkan karya desain sampul kaset beberapa artis ternama. Sempat jadi penyanyi juga dan menciptakan lagu, bahkan jingle iklan.
Sempat jadi presenter bersama Ucok Baba. dan sekarang fokus mengelola Sekolah Alam bernama Kandank Jurank Doank.

Wahyu Aditya - KDRI, Hellomotion,
seorang bisnisman kreatif yang punya segudang bakat.
Rajin membuat logo, komikus, desainer tees, animator, pembuat video.

Richard Fang - DKV
Dulunya sempat dikenal sebagai illustrator, membuat produk clothing sendiri, pernah bekerja di agency. dan sekarang lebih dikenal sebagai web desainer khusus interface.

Yudi - The Yellow Dino
Illustrator terkenal pembuat karakter Yellow Dino. Pecinta grafity, dulunya berkuliah di Sekolah Tinggi Bahasa Asing.

Rajaya - Machine56
Sempat setahun kuliah DKV terus berhenti dan menjadi illustrator handal.

Anggi Krisna - iCreativelabs
Desainer dan Programing Web handal.
Lulusan Institut Pertanian Bogor.

Belum lagi musisi2 handal negeri ini yang dulunya lulusan senirupa yang juga handal membuat musik.

Silakan cek di google untuk lebih lengkapnya..:D

kalau desain grafis sudah menjadi profesi pilihan kita, menurut saya yg harus kita lakukan adalah: terus belajar, jalani dengan sepenuh hati dan tentu saja menikmati... menikmati proses dan menikmati hasil... ga ada hasil tanpa proses...
salam...

yg penting kerjakan dengn iklas

Tentang "siapa yg peduli?" saya pernah punya pengalaman yang kayaknya membuat profesi desainer dianggap sepele...

Beberapa teman yang menjadi pengajar di jurusan tetangga dari jurusan desain menekankan pada anak didiknya bahwa jurusan desain bukan sesuatu yang spesial untuk dipelajari, hingga ahirnya di sekolah tersebut ada pemahaman bhw jurusan desain sebetulnya gak perlu dibuat jenjang strata-1, cukup kursus aja.

Ternyata pandangan itu disebarluaskan ke masyarakat oleh anak didiknya, yang setelah lulus menulis buku ttg desain grafis, dan di akhir buku dia menegaskan bahwa desainer grafis itu bisa dipelajari dengan mudah oleh semua orang dan gak perlu sekolah.

Rasanya yang menjadi permasalahan di sini ialah kurangnya respek terhadap apa yang dilakukan oleh orang lain. Dan yang lebih parah hal tersebut dilakukan oleh orang2 nyang mestinya mengerti dan mengamalkan etika keprofesian.

Selama kita kurang menghormati orang lain, hal ini akan terus berlanjut...

thx gan buat motivasinya,..

desain grafis???
ya...berat...ya pusing..ya enjoy aja lah...
ya...sebuah resiko yang menantang bagi para kreator yang kreatif...

menjadi desainer sangatlah mengasikkan.. yang menganggap itu membusankan mungkin karena melihat di indonesia desainer kurang dihargai, karena masyarakat belum bisa membedakan antara desain dan setting (dipikirnya sama)jadi semangat para desainer !!!!!

Tetangga : Hai Jumardan, apa kabar kamu sekarang?
Aku : Baik om, baik tante. :)
Tetangga : Lanjut dimana nak?
Aku : Universitas Negeri Makassar.
Tetangga : Ambil jurusan apa kamu disana?
Aku : Desain Komunikasi Visual
Tetangga : #&$&!@#$%&*.......@#$$*#&@*@!%

(Nah loh, bingung sendiri mereka. Sambil pamit mau masuk rumahnya.)

math is easy, design is hard.

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...